Curhat Tentang Facebook


Written on June 9, 2009 – 8:28 pm | by admin

Artikel ini setidaknya telah membuat saya lega dalam menyikapi beredarnya wacana bahwa facebook haram dan dianggap tidak sesuai dengan ajaran. Maklum, setelah tinggal di rumah saya jarang baca koran karena koran di sini mahal-mahal, tidak seperti koran yang dijual dengan harga miring di koridor faperta berlabelkan khusus mahasiswa. Sebelumnya saya mendapatkan informasi bahwa facebook (FB) dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam di sebuah running text stasiun televisi swasta, Metro TV. Sepeti biasa, berita dalam running text selalu singkat sehingga informasi yang didapat tidak menggambarkan kondisi sepenuhnya.

Pertama kali, saya pun bertanya-tanya, apa iya MUI akan menfatwakan facebook (FB) haram? Memang apa yang salah dengan FB, apa karena FB produk Yahudi yang sebagian keuntungannya digunakan untuk membunuh saudara kita di Palestina (sampai sekarang saya tidak tahu tentang kebenaran itu), atau karena FB bisa menimbulkan berbagai penyakit berbahaya dan mengancam kehidupan manusia seperti halnya rokok. Saya bingung, dan dari perspektif lain saya melihat bukankah apabila FB digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat bisa menimbulkan efek positif bagi kehidupan kita, katakan saja menyebarluaskan informasi tentang kebaikan, berdagang produk yang halal, bersilaturahmi dengan sahabat lama, dan sebagainya. Dengan menimbang perasaan semata, tanpa pendekatan ilmu-ilmu agama (karena saya bukan ahli agama, bukan santri, bukan ustadz, apalagi ulama), saya pun masih enjoy menggunakan FB.

Sampai akhirnya saya menemukan artikel ini. Sebuah pandangan yang mungkin bisa menjawab keresahan orang-orang seperti saya, yang awam terhadap ilmu agama. Read the rest of this entry »

Tags: , , , , ,

Pemilu Super Riweuh Sejagat


Written on April 11, 2009 – 1:57 am | by admin

Riweuh, itulah kesan pertama pengalaman jadi anggota KPPS di lingkungan tempat tinggal saya. Bagaimana tidak, 3 hari sebelum hari H, saya dan teman-teman anggota KPPS belum pernah mendapatkan satu instruksi pun dari pak Ketu. Kita baru ‘ngeh’ ketika mengadakan pengajian keliling mingguan, Senin malam, di rumah Bapak RW. Kami heran dan cukup was-was ketika anggota panitia dari RT tetangga menceritakan tentang kesibukannya mempersiapkan Pemilu di tempat itu. Wajar saja, anggota KPPS di RT saya kebanyakan sudah memiliki kesibukan yang lumayan setiap harinya, rata-rata sudah bekerja, hanya saya yang masih kuliah. Mungkin itu yang membuat pak Ketu sungkan untuk membangunkan kami dari kesibukan.

Walhasil, Alhamdulillah, sejak Selasa sudah ada beberapa yang bisa bergotong royong membangun TPS, termasuk saya yang terpaksa mengurungkan kembali niat untuk pergi ke Jakarta mencari data keperluan skripsi. Satu hari sebelum hari H, seharian penuh kita berjuang mempersiapkan TPS lengkap dengan segala keperluan administrasi yang dibutuhkan. Malamnya kami rapat menyusun job-desk masing-masing sekaligus diberikan honor sebesar Rp. 200 ribu Read the rest of this entry »

Tags: , , ,

ANTARA KEPENTINGAN DAN IDIOLOGI (Kemelut Perpolitikan Nasional 2009)


Written on April 5, 2009 – 10:30 am | by admin

Pesta pora agenda lima tahunan Indonesia akan segera berakhir, seluruh warga akan menentukan pilihannya dibalik kotak suara pada 9 April mendatang. Berbagai tingkah polah para politisi dan partai politik kian semarak dengan beragam cara dan upaya yang mereka lakukan demi meraih dukungan rakyat, dari banner dan spanduk caleg yang tebar pesona hingga tarian erotisme yang diusung oleh aktivis gerakan syahwat merdeka yang merasuki parpol-parpol tertentu.

Komunikasi politik pun gencar dilakukan antar elit partai. Walaupun penuh dengan ketidakpastian siapa mau berkoalisi dengan siapa, setidaknya sinyal tersebut telah menyebabkan spekulasi di tataran akar rumput. Hal yang menarik disini adalah kenyataan bahwa idiologi partai politik tidak lah selalu menjadi barrier dalam melakukan nego-nego politik untuk kepentingan bangsa seluruhnya.

Memang sejatinya negara kita terdiri dari beragam suku, agama, bahkan idiologi. Nasionalis, Islamis, bahkan komunis pun memiliki tujuan yang kiranya tak jauh berbeda, Read the rest of this entry »

Tags: , , , ,

PERPISAHAN KELAS DEPT. ILMU EKONOMI 2005 (IPB ANGKATAN 42)


Written on February 6, 2009 – 10:59 pm | by admin

Cisarua (Puncak), 4-5 Februari 2009 at Villa Andarun Citeko

Akhirnya masa itu datang juga. Suatu hari yang pasti bakal kita temui. Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Begitulah sunnatullah/hukum alam yang berlaku di dunia ini. Seperti halnya ada perempuan, ada juga laki-laki; ada siang, ada malam; selalu berpasang-pasangan. Bedanya yang ini pasang-pasangan bukan dalam hal ‘kata benda’, melainkan dalam hal ‘kata kerja’.

Sahabat-sahabat di IE 42 yang saya cintai, sekitar 2,5 tahun kita bersama dalam sebuah ikatan keluarga, duduk dalam satu kelas yang sama dan berlari mengejar asa dan cita. Segala rasa mungkin pernah kita dapati, mulai dari yang paling manis hingga yang paling pahit. Dan ternyata, hal itu telah menorehkan berbagai warna kehidupan yang akhirnya menyusun sebuah warna pelangi yang begitu indah tatkala kita memandangnya. Begitu pula dengan latar belakang kehidupan kita yang berbeda satu sama lain. Dari yang lower-midle hingga higher-midle class, semuanya ada. Saling melengkapi. kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari setiap perbedaan yang melekat dari sebuah keluarga kecil ini, sungguh tidak ada yang sia-sia apabila kita bisa menyikapinya dengan arif. Read the rest of this entry »

Tags: , , ,

FATWA: BUKAN URUSAN HALAL-HARAM, TAPI MASALAH SUKA-TIDAK SUKA


Written on February 5, 2009 – 11:45 pm | by admin

(Seri kelanjutan “Meminta Fatwa Haram Golput = menodong MUI”)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) kini semakin eksis di dunia gossip realita social-budaya Indonesia di awal bulan 2009 ini. Hal ini merupakan puncak dari sekian kabar-kabar yang sebelumnya mulai memanas di ranah media akhir bulan lalu. Setelah sebelumnya kak Seto (Komnas Perlindungan Anak) khawatir kan kondisi anak-anak Indonesia yang sudah banyak mencoba merokok bertandang ke gedung MUI untuk mendorong para sesepuh ulama nasional mengeluarkan fatwa haram rokok. Kemudian, isu fatwa haram golput yang juga menjadi pro-kontra dikalangan elit politik dan elit ulama. Dan terakhir , setelah berkumpul di Padang, MUI mengeluarkan fatwa halal tentang aborsi apabila janin membahayakan dan mengancam keselamatan sang ibu.

Tentu ketiga wacana tersebut sempat menjadi bulan-bulanan media karena memang setiap keputusan yang dikeluarkan MUI selalu ada pihak yang diuntungkan dan tak banyak yang dirugikan. Semakin mengkhawatirkannya jumlah pecandu rokok di Indonesia menjadi bagian pertimbangan yang mendorong keluarnya fatwa haram rokok. Di sisi lain kita melihat bahwa jutaan orang banyak yang menggantungkan hidupnya dari rokok. Bahkan cukai rokok menjadi salah satu sumber penerimaan pemerintah terbesar yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan nasional. Peran industry rokok dalam menyerap tenaga kerja juga terhitung cukup besar, belum lagi efek multiplier yang ditimbulkannya seperti terlihat pada supermarket, mini market, pedagang klontongan, pedagang asongan hingga rumah sakit khusus paru-paru turut mendapat bagian keuntungan secara material. Wajar saja jika wapres Jusuf Kalla berkomentar bahwa fatwa haram rokok sebaiknya menimbang urusan ekonomi Read the rest of this entry »

Tags: , , ,

SISTEM EKONOMI ISLAM: SATU-SATUNYA SOLUSI KRISIS FINANSIAL GLOBAL


Written on January 27, 2009 – 9:20 pm | by admin

Judul di atas merupakan judul seminar yang diselenggarakan BKIM IPB pada hari Sabtu (20/12) kemarin. Judul yang cukup mendorong siapapun yang tertarik dengan dunia ekonomi (terutama ekonomi Islam) dan yang tak ketinggalan mengikuti perkembangan krisis financial global (KFG). Seminar tersebut menghadirkan pakar-pakar nasional yang kompeten di bidangnya, antara lain Iman Sugema, Phd (ekonom senior yang sedang naik daun, berkiprah di INDEF, Intercafe, dan masih aktif sebagai dosen di Departemen Ilmu Ekonomi, FEM IPB) ; Jaenal Effedi, SE, MA (dosen Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi, FEM, IPB ); Ir. Ismail Yusanto, MA (Pakar Ekonomi Islam/Direktur SEM Institute). Patut disayangkan salah satu pembicara berhalangan untuk hadir. Beliau adalah Prof. Dr. Kwiek Kian Gie—tokoh nasional. Padahal, Kwiek diharapkan akan menjadi pengimbang karena beliau dinilai dapat melihat dari perspektif yang berbeda.

Krisis financial global bermula dari krisis subprime mortgage—semacam kredit perumahan murah yang sertifikatnya diderivatifkan dan diperjualbelikan di pasar modal—yang kemudian berimbas bukan hanya di Negara maju melainkan juga di Negara berkembang, termasuk Indonesia. Hingga saat ini di negara kita sebanyak lebih dari 15000 orang telah di PHK dan diperkirakan akan menyusul dalam jumlah yang lebih besar. Hal tersebut umumnya menimpa perusahaan yang berorientasikan ekspor (export oriented) yang mana Negara-negara tujuan ekspornya sedang mengalami resesi akibat krisis sehingga tidak ada lagi permintaan akan produk-produk perusahaan tersebut. Di Indonesia, besarnya tekanan KFG ini terlihat dari terkoreksinya indeks di bursa saham, terdepresiasinya nilai tukar hingga sempat mencapai Rp. 12.000 per dollar, anjloknya komoditas ekspor andalan seperti CPO, dll. Trend penurunan harga minyak dunia yang cukup tajam juga merupakan dampak dari KFG yang bisa memberikan sedikit nafas segar bagi kita. Read the rest of this entry »

Tags: , , ,

MEMINTA FATWA HARAM GOLPUT = MENODONG MUI


Written on December 12, 2008 – 11:00 pm | by admin

Akhir –akhir ini wacana mengenai fatwa yang mengharamkan golput (golongan putih) santer terdengar di berbagai media baik cetak maupun elektronik. Isu ini berkembang setelah Hidayat Nurwahid—ketua MPR RI—meminta kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menfatwakan haramnya golput. Menurutnya, golput adalah bentuk keputus-asaan dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Hidayat juga menekankan akan pentingnya meningkatkan peran partai politik (parpol) dalam menyelesaikan permasalahan tersebut sehingga bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap partai politik yang ada yang bisa dilakukan sejak dini melalui pengkaderan yang baik.

Ketua dewan fatwa MUI, KH. Ma’ruf Amin, berpendapat bahwa meminta memfatwakan haram akan suatu hal sama dengan menodong MUI. Urusan halal atau haram adalah urusan MUI, jadi jangan meminta memfatwakan haram atau halal, tetapi meminta fatwa saja itu sudah cukup. Lebih lanjut Pak Kyai menyatakan bahwa itu baru sebuah wacana, belum ada fatwa mengenai haram atau halalnya golput. Di sisi lain, beliau sebetulnya setuju akan haramnya golput. Menurut penilaiannya golput tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya merefleksikan bentuk keputus-asaan. “Mencoblos atau memilih bisa menjadi wajib apabila kita memilih partai politik yang benar, yaitu partai yang memiliki misi untuk ber-amar-ma’ruh nahi munkar”, tegas Pak Kyai. Beliau tidak menyebutkan partai politik yang mana yang ia maksud, “pasti ada” itulah yang beliau katakan.

Jika kita flash back berita-berita sebelum berkembangnya wacana ini, kita bisa melihat pertikaian yang tak berujung antara Kyai dan santri—Gusdur dan Muhaimin Iskandar. Kekalahan Gusdur sebagai ketua dewan Read the rest of this entry »

Tags: , , ,

NOSTALGILA: I’m Still Oldskool


Written on June 1, 2008 – 7:49 pm | by admin

Sunday (Midnight), June 1st 2008

This is the second time acara kontes musik pemuda masa kini diadain lagi di kampung gw. Setelah sekian lama, kira-kira pas gw baru tingkat satu akhir acara yang sama pernah digelar. Waktu itu acara dilaksanakan dalam rangka menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia, kalo dalam bahasa simple-nya acara agustusan.

Kali ini acara digelar hanya untuk senang-senang tanpa alasan yang jelas dan dapat dipertangungjawabkan di hadapan publik. Ide ini berawal dari salah satu anggota masyarakat yang memiliki sebuah studio musik. Chaeril Armoza namanya. Akrabnya gw panggil Caeril or sametimes Eril. Kebetulan dia sahabat gw SMA yang selalu gw tebengin kalo dia lagi bawa bo’il ke sekolah. Lumayan bisa ngirit ongkos hingga 50 persen, or perhaps till 100 persen kalo kebetulan pulang pergi bareng dia. But, itu jarang terjadi. Secara kelompok bermain gw beda airan sama kelompok dia. Kelompok gw idiologinya lebih ke arah ’little religious melankonis futuristis’, sedangkan temen gw itu alirannya lebih mendekati ’sabodo teuing aing teu nyararaho’ (hayo loh, tau gak artinya?? Hehe, sorry Ril heureuy). So, wajar kalo balik kita jarang bareng coz biasanya masing-masing kelompok punya tujuannya masing-masing.

Awalnya, kata Eril, acara ini dibuat sekaligus untuk launching album indie and EO alias event organizer-nya. Tapi berdasarkan apa yang gw liat dan amati, kayaknya enggak gitu deh. Acaranya begitu sederhana. Di pagi hingga sore hari, si Caeril dan panitia lainnya menampilkan band-band pemula yang mayoritas ABG untuk membawakan masing-masing dua lagu dari setiap band. Tujuannya sih sedikit komersil, cari duit juga ya Ril?! Maklum lah, bikin acara sekecil apapun tetep membutuhkan duit yang lumayan. Biar gak rugi-rugi amat. Next, malemnya baru acara private, tertutup untuk umum, wabil khusus untuk temen-temen deketnya aja. Band-bandnya keren, ber-skill and betul-betul menghibur. Ada beberapa band indie yang sudah menelorkan album, seperti Mayonaise, ada pula band kocak mirip Team Lo yang berasal dari Unpak membawakan lagu-lagunya Benyamin Su’eb. Itu loh tokoh legendaris dengan muka kampung rezeki kote. Lainnya, band-band potensial yang gak kalah seru yang berasal dari berbagai sudut di wilayah Bogor. Bahkan ada satu band berasal dari kampus IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Terbayangkan, kalo acara ini gak bisa dibilang acara ece-ece, eventhough sebenernya dikemas dengan amat sederhana sekali.

Siang hari menjelang waktu Dzuhur gw and temen menuju ke lokasi. Sempet agak kecewa coz acaranya ko gini banget, terlihat ece-ece, banyak muda mudi berondong baru tumbuh bak kecambah. Dengan stelan gaya anak zaman sekarang, tentunya berdasarkan aliran kepercayaan masing-masing, para pelancong itu betebaran di sepanjang jalan Mandor Hasan. Sedikit prihatin melihat kondisi umat saat ini, dan sedikit malu juga melihat kondisi diri ini. Dalam benak gw selalu bertanya-tanya: mungkin dulu, waktu masih daun bawang (abege) gw kayak gini kali ya? Oh tidak. Dan ternyata hal ini membuat gw merasa semakin tua. Gw bukan anak ingusan lagi chuy. Tapi, ya sudah lah, sudah memang seharusnya.

Jujur, ketertarikan gw terhadap dunia musik/band sudah sangat berkurang. Jangankan memimpikan untuk membuat album indie, memainkan alat musik pun sudah tak bisa lagi. Padahal sebelumnya gw selalu berpindah dari satu panggung ke panggung lainnya, dari satu gig ke gig lainnya. Maklumlah, bukan sedikit sombong, dulu band gw merupakan salah satu band yang paling ditunggu-tunggu oleh para undergrounder tingkat lokal. Bukan lokal nasional, bukan pula lokal regional, melainkan lokal kecamatan atau lebih parahnya lokal RT/RW. Bukan karena kepiawaian kami bermain musik, bukan pula kehebatan kami dalam setiap aksi panggungnya. Jadi, apa dong? Nah, itu dia yang selalu kita tanyakan. Tapi betul bahwa dunia seperti ini sudah sekian lama gw tinggalkan. Ada hal yang lebih penting yang harus gw lakukan. Dan gw kira tak bisa ditinggalkan sepenuhnya, gw tetep harus tau perkembangan musik idiologis seperti ini dari masa ke masa. Tujuannya hanya satu, supaya bisa tetap dekat dan nyambung dengan mereka yang menganutnya. Sehingga tujuan dakwah pun bisa dicapai dengan mudah. Makanya, untuk para aktivis, jangan memandang sebelah mata, tapi lihatlah bahwa disana ladang amal bagi kita. Masih banyak sendi-sendi kehidupan yang perlu kita jamah. Kalo bukan kita siapa lagi.

Siang itu gw ketemu sama temen sekampung jua, mereka mengatakan bahwa band-nya main malem nanti. Sial, tadinya sore ini gw berencana balik ke kostan. Besok gw kuliah pagi jam tujuh. Dosennya lumayan killer juga, gak boleh masuk kalo telat lebih dari 10 menit. Ditambah, ada PR yang belum gw kerjakan. Tapi, pikirku berkata lain, ini kan acara yang jarang sekali terjadi, sayang kalo dilewatkan. Hajatan pemuda kampung kita lah pokonya mah. Baiklah, ternyata kala itu syetan berhasil membujuk gw. Akhirnya gw putuskan untuk berangkat subuh saja, nonton dulu sampe kelar. Nanti malam gw putuskan untuk kembali ke tempat ini. Nonton band-band yang lebih matang dan berkualitas.

Malam hari mulai pukul 21.00 acara kembali dimulai. Sebelumnya acara direncanakan akan dibuka kembali ba’da isya atau sekitar pukul 19.30, tetapi karena banyaknya massa yang berdatangan dan menunggu di depan pintu gerbang acara ditunda. Acara ini merupakan acara private, bukan untuk umum. Dikhawatirkan pula akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan alias rusuh, beberapa fenomena maksiat seperti meminum minuman keras dan mojok ’dua sejoli’ di tempat-tempat tertentu dimana sesungguhnya panitia tidak bisa mengontrol hal semacam ini. Jadi lebih baik dibubarkan terlebih dahulu. Selanjutnya hanya peserta, panitia, dan warga Kopo saja yang boleh menikmati acara ini.

Berbagai band tampil memukau dan menghibur. Dari yang superserius hingga mellow, dari musik benyamin sampai musik oldskool ada di sini. Seru dan asyik. Bahkan mang Andi, si penggembala kambing, pun tak bisa mengedipkan matanya melihat aksi panggung peserta. Terlebih rasa penasaran beliau yang ingin menyaksikan si Nelo, anaknya, beraksi sebagai drumer dalam sebuah band melodic di kampung kami. Gw dan mang Andi terus menyaksikan berlangsungnya acara sambil mengamati kondisi umat masa kini. Adakah perubahan yang lebih baik bagi warga kampung kami. Gw bisa menyimpulkan bahwa generasi muda saat ini lebih baik, walaupun mereka bermain band beraliran bawah tanah, tetapi dalam aktivitas bersih-bersih masjid, makam, atau kerjabakti lainnya tak pernah dilewatkan, bahkan mereka termasuk golongan orang-orang yang rajin beribadah/solat ke masjid (walaupun cuma magrib dan isya doank, hehe..).

Keadaan memanas di beberapa menit terakhir, band tuan rumah (The Matador: Caeril dkk.) menampilkan performance yang matang dan ’full of power’ burned spirit penonton yang ada, terutama barudak Kopo. Terlebih lagi acara ditutup dengan band tuan rumah kedua, yaitu The Maker, yang terdiri dari Nelo (anak mang Andi) sebagai drumer, Baba (Imam), Temon, dan iO anak pak Lurah yang membawakan melodic song karya sendiri. Barudak Kopo pun antusias moshing/pogo sambil bercanda dan tertawa-tawa memperagakan gaya yang aneh. Memang sudah seperti itu tabiatnya kali ya?? ;-p

Mentang-mentang band penutup, The Maker mulai dirasuki roh hardcore dari para sesepuh penyebar hardcore NU-skull di wilayah kami. Mereka adalah Utenk dan Sabenk. Utenk langsung saja mengambil alih mic dan me-request The Maker untuk membawakan oldskool song yang sempat dipopulerkan band gw dulu di masa jahiliyah ’Bangkit Melawan atau Tunduk Ditindas’. Lagu tersebut merupakan sebuah karya band oldskool peteran Jakarta Straight-Answer.

Keadaan menjadi lebih tidak terkendali, ratusan masa Front Oldskool Kopo (FOK) memadati area panggung, pogo dan turut bernyanyi meneriakan sebuah jargon ’Bangkit Melawan atau tunduk Ditindas’ di sela-sela lirik secara bersama-sama. Tak ketinggalan tokoh pemuda pembela umat masa kini terpancing untuk turut serta turun panggung bernyanyi bersama. Meski kacamata yang dikenakannya terlempar ketika pogo, tak menyurutkannya untuk berhenti. Idealisme paham bawah tanah yang sempat dianutnya kembali merebak kepermukaan. Semua orang pun tak menyangka ini bisa terjadi pada seorang yang dikenal sebagai salah satu aktor intelektual dibalik berbagai pergerakan untuk melawan kesewenang-wenangan proyek kontroversial hotel USSU dan berbagai perubahan yang telah dilakukannya untuk kemajuan umat.

Hal yang lebih menarik, musisi Bluss Kopo kawakan alias Mang Ayo yang sudah memiliki tiga anak dan bisa dikatakan tidak muda lagi secara fisik tak tahan untuk ikut-ikutan pula setelah sebelumnya menahan teman-teman untuk tidak rusuh dalam pogonya.

Selain itu disinyalir turunnya dedengkot NU-skull mengambil alih mic dan merasuki warna musik kedua The Maker dikarenakan ketidakpuasannya akibat gagal manggung karena salah dua dari personil bandnya dulu tidak bisa menerima tawarannya bermain dalam acara tersebut. Salah satunya karena sudah menjadi ketua DKM di kampung kami (Hehehe..). ”kita buktikan bahwa Kopo bersatu tak bisa dikalahkan”, kata Utenk.